Sabtu, 05 Mei 2012

filsafat kupu-kupu


Baca dan renungkanlah.
Semoga bermanfaat :-)

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Suatu hari lubang kecil muncul dari kepompong tersebut. Dia duduk mengamati dalam beberapa jam calon kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu.

Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.

Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap-sayap mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap- sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

Semuanya tak pernah terjadi....
Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut.
Dia tidak pernah bisa terbang.

Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Allah untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang-kadang perjuangan adalah suatu yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Allah membiarkan kita hidup tanpa hambatan perjuangan, itu mungkin justru akan melumpuhkan kita.
Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya yang dibutuhkan untuk menopang cita-cita dan harapan yang kita mintakan.
Kita mungkin tidak akan pernah dapat “Terbang”.

Sesungguhnya Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Kita memohon Kekuatan…Dan Allah memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat kita tegar.
Kita memohon kebijakan…Dan Allah memberi kita berbagai persoalan hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana.
Kita memohon kemakmuran…Dan Allah memberi kita Otak dan Tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran.
Kita memohon Keteguhan Hati…Dan Allah memberi Bencana dan Bahaya untuk diatasi.
Kita memohon Cinta…Dan Allah memberi kita orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan dicintai.
Kita Memohon kemurahan/kebaikan hati…Dan Allah memberi kita kesempatan-kesempatan yang silih berganti.
Begitulah cara Allah membimbing Kita.

Apakah jika saya tidak memperoleh yang saya inginkan, berarti bahwa saya tidak mendapatkan segala yang saya butuhkan?
Kadang Allah tidak memberikan apa yang kita minta, tapi dengan pasti, Allah  memberikan yang terbaik untuk kita, kebanyakan kita tidak mengerti dan mengenal, bahkan tidak mau menerima rencana Allah, padahal justru itulah yang terbaik untuk kita.
Tetaplah berjuang…berusaha…dan berserah diri…
Jika itu yang terbaik maka pasti Allah akan memberikannya untuk kita.

Filosofi Angsa

Kalau  kita  tinggal  di  Negara  empat  musim,  maka  pada  musim  gugur  akan  terlihat  rombongan  angsa  terbang  kearah  selatan  untuk  menghindari  musim  dingin.  Angsa-angsa  tersebut  terbang  dengan  formasi  berbentuk  hurup  ‘V’ .  Kita  akan  melihat  beberapa  fakta  ilmiah  tentang  mengapa  rombongan  angsa  tersebut  terbang  dengan  formasi  ‘V’ . 

Fakta  Pertama : 
Saat  setiap  burung  mengepakkan  sayapnya,  hal  itu  memberikan  daya  dukung  bagi  burung  yang  terbang  tepat  dibelakangnya.  Itu   terjadi  karena  burung  yang  terbang  di  belakangnya  tidak  perlu  bersusah  payah  untuk  menembus  ‘dinding  udara’  di  depannya.  Dengan  terbang  dalam  formasi  ‘V’ ,  seluruh  kawasan  dapat  menempuh  jarak  terbang  71%  lebih  jauh  dari  pada  kalau  setiap  burung  terbang  sendirian. 

Dari  fakta  ini,  pelajaran  yang  dapat  kita  petik  untuk  kehidupan  berjama’ah  adalah :  ketika  kita  bergerak  dalam  arah  dan  tujuan  yang  sama  serta  saling  membagi  dalam  komunitas  di  antara  kita,  InsyaAllah  dapat  mencapai  tujuan  kita  dengan  lebih  cepat  dan  lebih  mudah.  Ini  terjadi  karena  kita  menjalaninya  dengan  saling  mendorong  dan mendukung  satu  dengan  yang  lain. 

Fakta  kedua : 
Kalau  seekor  angsa  keluar  dari  formasi  rombongan,  ia  akan  merasa  berat  dan  sulit  terbang  sendirian.  Dengan  cepat  ia  akan  kembali  kedalam  formasi  untuk  mengambil keuntungan  dan  daya  dukung  yang  diberikan  burung  di  depannya. 

Dari  fakta  ini,  pelajaran  yang  dapat  kita  petik  untuk  kehidupan  berjama’ah  adalah :  kalau  kita  memiliki  cukup  logika  umum  seperti  seekor  angsa,  kita  akan  tinggal  dengan  formasi  saudara-saudara kita  yang  berjalan  di  depan.  Kita  akan  mau  menerima  bantuan  dan  memberikan  bantuan  kepada  yang  lainnya.  Lebih  sulit  untuk  melakukan  sesuatu  dengan  seorang  diri  dari  pada  melakukannya  bersama-sama. 

Fakta  ketiga : 
Ketika  angsa  pemimpin  yang  terbang  di  depan  menjadi  lelah,  ia  terbang  memutar  kebelakangan  formasi,  dan  angsa  lain  akan  terbang  menggantikan  posisinya.

Dari  fakta  ini,  pelajaran  yang  dapat  kita  petik  untuk  kehidupan  berjama’ah  adalah :  sungguh  masuk  akal  untuk  melakukan  tugas-tugas  yang  sulit  dan  penuh  tuntutan  secara  bergantian  dan  memimpin  secara  bersama .  Seperti  halnya  angsa,  manusia  saling  bergantung  satu  dengan  lainnya  dalam  hal  kemampuan,  kapasitas  dan  memiliki  keunikan  dalam  karunia,  talenta,  atau  sumber  daya  lainnya. 

Fakta  Keempat : 
Angsa-angsa  yang  terbang  dalam  formasi  ini  mengeluarkan  suara  riuh  rendah  dari  belakang  untuk  memberikan  semangat  kepada  angsa  yang  terbang  di  depan  sehingga  kecepatan  terbang  dapat  di  jaga.

Dari  fakta  ini,  pelajaran  yang  dapat  kita  petik  untuk   kehidupan  berjama’ah  adalah :  kita  harus  memastikan  bahwa  suara  kita  akan  memberikan  kekuatan.  Dalam  kelompok  yang  saling  menguatkan ,  hasil  yang  dicapai  menjadi  lebih  besar.  Kekuatan  yang  mendukung  (berdiri  dalam  satu  hati  atau  nilai-nilai  utama  dan  saling  menguatkan)  adalah  kualitas  suasana  yang  kita  cari.  Kita  harus  memastikan   bahwa  suara  kita  akan  menguatkan  bukan  melemahkan. 

Fakta  Kelima : 
Ketika  seekor  angsa  menjadi  sakit,  terluka,  atau  ditembak  jatuh   angsa  lain  akan  ikut  keluar  dari  formasi  bersama  angsa  tersebut  dan  mengikutinya  terbang  turun  untuk  membantu  dan  melindungi.  Mereka  tinggal  dengan  angsa  yang  jatuh  itu  hingga  ia  mati  atau  dapat  terbang  lagi.  Setelah  itu  mereka  akan  terbang  dengan  kekuatan  mereka  sendiri  atau  dengan  membentuk  formasi  lain  untuk  mengejar  rombongan  mereka. 

Dari  fakta  ini,  pelajaran  yang  dapat  kita  petik  untuk  kehidupan  berjama’ah  adalah :  kalau  kita  punya  perasaan  setidaknya  seperti  seekor  angsa,  kita  akan  tinggal  bersama  sahabat  dan  sesama  kita  dalam  saat-saat  sulit  mereka,  sama  seperti  ketika  segalanya  baik.

“Tidakah  kamu  tau  bahwasannya  Allah ,  kepada-Nya  bertasbih  apa  yang  di  langit  dan  di  bumi  dan  (juga)  burung  dengan  mengembangkan  sayapnya.  Masing-masing  telah  mengetahui  (cara)  sembahyang  dan  tasbidnya  dan  Allah  Maha  Mengetahui  apa  yang mereka  kerjaan" (QS.  An  Nuur :  41)

 

Semoga  bermanfaat :-)